KNPI Kaltim Gagal Jadi Rumah Besar Pemuda, Musda XIV Justru Picu Perpecahan
KLIKSAMARINDA – Pelaksanaan Musda XIV KNPI Kaltim 2025 di Hotel Grand Senyiur, Balikpapan, menuai kritik keras. Selain diwarnai kericuhan, prosesnya juga janggal dan tidak transparan hingga dinilai cacat sejak awal. Hal ini diungkapkan Akhmed Reza Fachlevi, Ketua TIDAR Kaltim sekaligus Ketua BKPRMI Kaltim.
“Harusnya KNPI sebagai wadah berprosesnya pemuda-pemudi dalam rangka pendewasaan politik tidak melakukan hal-hal yang mencederai proses demokrasi dalam berorganisasi,” tegasnya, kepada KLIKSAMARINDA.
Informasi yang dihimpun, dari total 191 OKP yang terdaftar di bawah naungan KNPI versi Ryano Panjaitan, hanya ada sekira 70 OKP yang diakomodir dalam Musda XIV KNPI Kaltim kali ini.

Artinya, jelas Reza, masih banyak OKP yang tidak bisa menyalurkan hak pilihnya. Padahal mereka mempunyai legalitas dan hak suara yang resmi. TIDAR Kaltim dan BKPRMI Kaltim sendiri merupakan OKP resmi yang tegak lurus dengan KNPI versi Ryano.
“Kalau tidak terbuka seperti ini buat apa diadakan Musda? Sama saja ini pengkondisian untuk menduduki sebuah jabatan. Kalau begini, kejadian seperti ini akan terus berulang,” jelasnya.
Reza menilai, praktik seperti ini semakin menjauhkan semangat persatuan pemuda Kaltim yang diusung KNPI. Alih-alih menjadi forum konsolidasi, Musda XIV KNPI Kaltim justru menimbulkan fragmentasi dan memperkuat ego sektoral.
“Hal seperti inilah yang membuat sulit bersatunya pemuda di Kaltim melalui KNPI, karena ada ego di antara masing-masing,” terangnya.
Kritik ini, lanjut Reza, menegaskan jika problem klasik KNPI terkait dualisme kepemimpinan, tarik-menarik kepentingan, hingga minim transparansi kembali mencuat di Kaltim. “Pertanyaan besar pun muncul, apakah KNPI masih relevan jadi rumah besar pemuda, atau justru sekadar arena bagi segelintir pihak untuk mengamankan posisi dan kepentingan politik?” tanyanya. (*)




